I am ruined.
Aku terdiri dari serpihan-serpihan ketololan diriku sendiri,
yang selama ini aku ciptakan sendiri, menumpuk hingga ambruk sendiri.
Every jokes about being a widow is a very funny thing for me
before. Now, totally not. Nothing funny about it.
Pernikahan buatku seperti hubungan antara 2 negara. Yang
ketika dihadapkan pada satu masalah, jalan keluarnya hanya ada dua; pertama,
apakah kedua negara setuju untuk saling melengkapi dalam menyelesaikan masalah
tersebut. Atau kedua, apakah kedua negara tersebut membuat garis batas, yang di antaranya adalah medan
perang.
Aku yang dulu terlalu naif.
Berpikir bahwa pernikahan itu sungguh sederhana dan mudah.
Tapi aku lupa bahwa di dalam pernikahan, pasangan kita belum tentu beranggapan
hal yg sama. Pernikahan adalah tentang menggabungkan dua pikiran. Menurut
pendapatku begini, menurut pendapatnya begitu.
Sungguh aku senaif perempuan yang berpikir bahwa hanya
dengan setia mendekam di rumah, sudah cukup mempertahankan pernikahan sampai
akhir hayat.
Sungguh aku senaif perempuan yang berpikir bahwa hanya
dengan tidak menuntut banyak hal ke pasangan, akan cukup untuk membuat
pernikahan bertahan.
Aku sedang berbahagia memiliki seorang bayi di dalam
perutku. Ini yang ketiga. Aku berpikir bahwa aku akan memanjakannya. Tidak akan
jatuh sakit dan opname berhari-hari pada awal kehamilan. Bahwa aku akan banyak
beristirahat dengannya. Membeli beberapa lagu dan sebuah headset untuk
kuperdengarkan ke telinga kecilnya.
Aku membangun semua rencana-rencana kecilku, berekspektasi.
Dalam hubungan pernikahan yang kusadari sudah tidak
harmonis, aku berharap kehamilanku adalah jawaban dari semuanya.
Ketidakharmonisan yang telah berjalan bertahun-tahun.
Mungkin kamu pernah mengalaminya. Kamu berada di satu rumah
yang sama dengan seseorang. His body was there, but his mind never.
Hingga sampailah aku di titik, aku tidak akan pernah bisa
mempertahankan ini sendirian. Berharap dan terus berharap ada perubahan. Aku
selalu mengingatkan diriku bahwa hidupku sempurna.
Keluarga kecilku yang
lengkap, pasangan dan anak2. Kehidupan yang mapan.
Hingga pada malam itu, tidak ada sedikitpun pikiran di
otakku yang mencoba mengingatkan betapa sempurnanya hidupku selama ini. Ia
justru membuka semuanya. Mengingatkan bahwa selama ini aku membohongi diri
sendiri. Hidup dalam ketidakbahagiaan. Diperlakukan dengan tidak pantas.
Proses itu telah aku lewati dengan pikiran2 yang selalu
hidup di malam hari, selalu berkecamuk saat aku berhenti bekerja, selalu
berteriak di dalam kepalaku saat aku mulai lupa. Sangat keras aku mencoba
berpikir bahwa aku tidak pernah menyesali apapun. Bahwa pertemuan terjadi
memang sudah seharusnya. Dan perpisahan terjadi memang untuk yang terbaik.
Ketakutan di dalam hatiku bahwa akan sulit ada seseorang
yang bisa mencintai aku dan anak-anakku di kemudian hari. Bahwa aku berpikir,
tak mudah untuk aku mengisi kehilangan untuk anak-anakku.
Sampai aku dipertemukan padanya...
Yang mencintaiku dalam keadaan hamil. Dan menyukai aku dalam
keadaan seperti itu daripada seperti saat ini, ketika anakku sudah lahir.
Disaat yang lain mengajak ‘aku’ pergi berdua, dia justru
merencanakan pergi dengan anak-anakku.
Bahwa saat itu dia telah memutuskan bahwa ‘surga’ di dunia
yang sudah ditelantarkan ini, adalah kemudian akan menjadi ‘surga’ miliknya.
Yang bersegera merakit masa depan, dengan aku dan anak-anak
di dalamnya.
Yang tetap memilihku, meski aku mengiriminya surat dengan
kata-kata acak-acakan, bahwa aku adalah gelas yang hancur, dan dia bisa saja
memilih gelas yg baik, tanpa harus berpayah memperbaikiku. Bahwa sekalipun
suatu hari aku akan menjadi lebih baik, tapi aku tidak akan pernah bisa sama,
karena setiap pecahan telah membekas dan menjadi bagian dari diriku. Yang mungkin
suatu hari bisa melukainya.
Maka dengan itulah aku ingin menjadi obat baginya nanti. Yang
bersedia mengobati segala luka di dirinya, yang diakibatkan oleh masa laluku.
Begitupun janjinya, bahwa segera setelah semua rencananya
tercapai, maka masa depan adalah segalanya. Masa lalu tidak akan pernah ada.
Begitupun ia memintaku untuk mendengarkan bahwa, tidak harus berada dalam sebuah pernikahan untuk merasakan sakit dan hancur berkeping-keping.
Seperti kemudian mimpiku adalah berada satu shaf di
belakangnya dalam do’a yang sama, selamanya...

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact