Jumat, 09 September 2016 0 komentar

PART 1 - SAMPAI AKHIR

I am ruined.
Aku terdiri dari serpihan-serpihan ketololan diriku sendiri, yang selama ini aku ciptakan sendiri, menumpuk hingga ambruk sendiri.
Every jokes about being a widow is a very funny thing for me before. Now, totally not. Nothing funny about it.

Pernikahan buatku seperti hubungan antara 2 negara. Yang ketika dihadapkan pada satu masalah, jalan keluarnya hanya ada dua; pertama, apakah kedua negara setuju untuk saling melengkapi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Atau kedua, apakah kedua negara tersebut membuat  garis batas, yang di antaranya adalah medan perang.

Aku yang dulu terlalu naif.

Berpikir bahwa pernikahan itu sungguh sederhana dan mudah. Tapi aku lupa bahwa di dalam pernikahan, pasangan kita belum tentu beranggapan hal yg sama. Pernikahan adalah tentang menggabungkan dua pikiran. Menurut pendapatku begini, menurut pendapatnya begitu.

Sungguh aku senaif perempuan yang berpikir bahwa hanya dengan setia mendekam di rumah, sudah cukup mempertahankan pernikahan sampai akhir hayat.

Sungguh aku senaif perempuan yang berpikir bahwa hanya dengan tidak menuntut banyak hal ke pasangan, akan cukup untuk membuat pernikahan bertahan.

Aku sedang berbahagia memiliki seorang bayi di dalam perutku. Ini yang ketiga. Aku berpikir bahwa aku akan memanjakannya. Tidak akan jatuh sakit dan opname berhari-hari pada awal kehamilan. Bahwa aku akan banyak beristirahat dengannya. Membeli beberapa lagu dan sebuah headset untuk kuperdengarkan ke telinga kecilnya.

Aku membangun semua rencana-rencana kecilku, berekspektasi.

Dalam hubungan pernikahan yang kusadari sudah tidak harmonis, aku berharap kehamilanku adalah jawaban dari semuanya. Ketidakharmonisan yang telah berjalan bertahun-tahun.

Mungkin kamu pernah mengalaminya. Kamu berada di satu rumah yang sama dengan seseorang. His body was there, but his mind never.

Hingga sampailah aku di titik, aku tidak akan pernah bisa mempertahankan ini sendirian. Berharap dan terus berharap ada perubahan. Aku selalu mengingatkan diriku bahwa hidupku sempurna. 
Keluarga kecilku yang lengkap, pasangan dan anak2. Kehidupan yang mapan.

Hingga pada malam itu, tidak ada sedikitpun pikiran di otakku yang mencoba mengingatkan betapa sempurnanya hidupku selama ini. Ia justru membuka semuanya. Mengingatkan bahwa selama ini aku membohongi diri sendiri. Hidup dalam ketidakbahagiaan. Diperlakukan dengan tidak pantas.


Proses itu telah aku lewati dengan pikiran2 yang selalu hidup di malam hari, selalu berkecamuk saat aku berhenti bekerja, selalu berteriak di dalam kepalaku saat aku mulai lupa. Sangat keras aku mencoba berpikir bahwa aku tidak pernah menyesali apapun. Bahwa pertemuan terjadi memang sudah seharusnya. Dan perpisahan terjadi memang untuk yang terbaik.

Ketakutan di dalam hatiku bahwa akan sulit ada seseorang yang bisa mencintai aku dan anak-anakku di kemudian hari. Bahwa aku berpikir, tak mudah untuk aku mengisi kehilangan untuk anak-anakku.



Sampai aku dipertemukan padanya...

Yang mencintaiku dalam keadaan hamil. Dan menyukai aku dalam keadaan seperti itu daripada seperti saat ini, ketika anakku sudah lahir.

Disaat yang lain mengajak ‘aku’ pergi berdua, dia justru merencanakan pergi dengan anak-anakku.

Bahwa saat itu dia telah memutuskan bahwa ‘surga’ di dunia yang sudah ditelantarkan ini, adalah kemudian akan menjadi ‘surga’ miliknya.

Yang bersegera merakit masa depan, dengan aku dan anak-anak di dalamnya.

Yang tetap memilihku, meski aku mengiriminya surat dengan kata-kata acak-acakan, bahwa aku adalah gelas yang hancur, dan dia bisa saja memilih gelas yg baik, tanpa harus berpayah memperbaikiku. Bahwa sekalipun suatu hari aku akan menjadi lebih baik, tapi aku tidak akan pernah bisa sama, karena setiap pecahan telah membekas dan menjadi bagian dari diriku. Yang mungkin suatu hari bisa melukainya.

Maka dengan itulah aku ingin menjadi obat baginya nanti. Yang bersedia mengobati segala luka di dirinya, yang diakibatkan oleh masa laluku.

Begitupun janjinya, bahwa segera setelah semua rencananya tercapai, maka masa depan adalah segalanya. Masa lalu tidak akan pernah ada.

Begitupun ia memintaku untuk mendengarkan bahwa, tidak harus berada dalam sebuah pernikahan untuk merasakan sakit dan hancur berkeping-keping.


Seperti kemudian mimpiku adalah berada satu shaf di belakangnya dalam do’a yang sama, selamanya...



Senin, 29 Februari 2016 0 komentar
15-10-2015

One whole white sheet of paper..
In front of me.
Waiting for me to start writing some stories..


Some people asking me,

Udah tau laki lo begitu gelagatnya dari dulu, kenapa juga lo masih hamil hasil dari dia?

Well, aku emang terlalu percaya. In almost everything, I mean. Aku gak pernah berpikir, that my marriage ternyata punya limit waktu. I think it’s for forever.

Aku selalu berpikir, apa lagi yang dicari di dunia ini, saat hidup sudah berkecukupan dan keluarga sudah lengkap dengan anak-anak? Tinggal mencari ibadahnya aja.

Dan ternyata aku dibodohi oleh rasa percayaku sendiri. Bahwa ternyata anything could happen. To your life.

Aku juga terlalu percaya, bahwa perceraian itu terlalu jauh untuk digapai dalam sebuah pernikahan. For me, marriage is more than commitment. You put your life in it. Live with it karna itu udah jadi keputusan kita untuk menikah.

And if you ask, apakah kamu sebenarnya bener-bener udah siap memasuki tahap baru dalam hidupmu waktu itu? A marriage?
I will answer, dengan yakin, “YES”
Inside of my heart, I choose him as my husband. My partner in life. Jadi aku pikir, apapun yang terjadi, pasti akan ada jalan keluarnya, as long as I am with you.
There was when I realize now that “Aku terlalu percaya”

I put my own family in top of my priorities. And I believe that’s enough. Yang ternyata, bagi sebagian orang yang tidak meletakkan keluarganya di prioritas teratas dalam hidupnya, bagi mereka itu gak cukup.

I am way too easy to forgive and giving another second, third, fourth chances.

Aku gak akan bilang, aku hanya manusia biasa yang punya batas. Because, “aku hanya manusia biasa” itu Cuma alesan klise orang-orang lemah yang mencari-cari alasan untuk membenarkan pilihannya yang salah. Aku hanya akan bilang, AKU PUNYA BATAS. Gak akan bilang “aku hanya manusia biasa” cause everyone is manusia biasa, like me. Dan banyak “manusia biasa” di luar sana yang tidak memilih jalan yang SALAH.

SABAR itu ada BATASnya. Itu benar. Bahkan kalau kamu mengetahui ceritaku, sakitnya aku, dan kamu kemudian bertemu langsung denganku saat ini, kamu akan melihat bahwa aku ternyata masih punya kesabaran. Juga kekuatan untuk menghadapi any one more day. Without being insane.
Semua orang yang tau cerita sebenarnya, awalnya mereka bersimpati. Kemudian mereka menghubungiku, via telpon, atau bertemu muka.

Dan mereka melihat di diriku. Tidak ada yang berubah. Tetap seperti aku yang dulu, yang lebih senang tertawa di depan orang-orang, meskipun kali ini menertawakan hidupku sendiri.
Sudah berapa banyak cerita sakitku, yang aku simpan selama ini dari orang-orang terdekatku? Menelannya sendiri bulat-bulat, agar mereka tidak perlu mengkhawatirkan aku. Agar mereka tidak perlu merasa sedih karena ceritaku, atau bersimpati karena air mataku.

Selama ini aku menghadapinya sendirian, tapi sekarang aku ingin sedikit demi sedikit mereka tau. Dengan melihat kenyataan, dan mendengarkan ceritaku. Aku tidak ingin hanya bercerita, lalu membuat mereka berasumsi sendiri tentang orang lain. Aku ingin mereka juga melihat kenyataan, dan mencocokkan dengan ceritaku. Dengan begitu, tidak akan ada yang berpikir apa yang kukatakan hanyalah emosi dan kebohongan. They could see the truth and they could hear me share my stories.

Aku senang saat ada orang yang datang, dengan rasa simpati di dada mereka, lalu ketika mereka melihatku masih berbahagia, mereka merasa lega.

Tidak ada situasi yang lebih buruk dari memberikan rasa prihatin kepada orang-orang yang berduka. Let me keep the tears, and let us share some laughs. Then I will be happy seeing your smile.
0 komentar

Kesetrum itu rasanya seperti apa?

Seperti ketika sikutku terbentur meja?
Seperti ketika petir menggelegar saat aku melamun?
Seperti ketika tersengat listrik dari raket nyamuk?

Atau seperti ketika jarimu, menyentuh jariku?

0 komentar

Tuhan sedang bermain denganku. Ia membuatku tertawa, lalu menangis. Ia membuatku percaya, lalu meragu. Ia membuatku jatuh cinta, lalu..

Begini.

0 komentar
Dear God,

I am okay.


Am I?
Rabu, 18 November 2015 0 komentar
Untuk semua perempuan, yg merasakan hal yg kurang lebih sama seperti aku, sakit hati karena diduakan dan ditinggalkan, aku punya satu obrolan yg sangat menohok aku banget. Yang membuat aku berhenti mengeluh tentang semua masalah yg menimpaku.

Saat aku menjabarkan ke seorang temanku, bagaimana aku sakit hati dan putus asa. Ingin mati dan menyalahkan Tuhan kenapa harus aku yang merasakan ini semua, temanku itu memberikan nasehat yang kurang lebih sama seperti orang lain.

"Kamu gak boleh begitu. Semua pasti ada hikmahnya. Ingat kamu harus kuat demi anak2 kamu."

Aku mati rasa dengan kata2 seperti itu.
Berikutnya, dia bertanya.

"Saat yg paling membahagiakan dalam hidup kamu itu, kapan?"

Aku jawab, "Saat anak2ku lahir..."

"Pernahkah kamu bertanya kepada Tuhan, kenapa Dia memberikan kamu kebahagiaan sebesar itu?"


......


Aku diam... Rasanya pengen banget menangis.
Karena jawabannya adalah "TIDAK"
.....
Senin, 19 Oktober 2015 0 komentar
This baby inside my tummy, knows me so well.

Tau banget rasa sakitku seperti apa.

Kami satu tubuh dua jiwa.

Setiap proses sakit dan sembuh, ia merasakan..
 
;