Senin, 29 Februari 2016
15-10-2015

One whole white sheet of paper..
In front of me.
Waiting for me to start writing some stories..


Some people asking me,

Udah tau laki lo begitu gelagatnya dari dulu, kenapa juga lo masih hamil hasil dari dia?

Well, aku emang terlalu percaya. In almost everything, I mean. Aku gak pernah berpikir, that my marriage ternyata punya limit waktu. I think it’s for forever.

Aku selalu berpikir, apa lagi yang dicari di dunia ini, saat hidup sudah berkecukupan dan keluarga sudah lengkap dengan anak-anak? Tinggal mencari ibadahnya aja.

Dan ternyata aku dibodohi oleh rasa percayaku sendiri. Bahwa ternyata anything could happen. To your life.

Aku juga terlalu percaya, bahwa perceraian itu terlalu jauh untuk digapai dalam sebuah pernikahan. For me, marriage is more than commitment. You put your life in it. Live with it karna itu udah jadi keputusan kita untuk menikah.

And if you ask, apakah kamu sebenarnya bener-bener udah siap memasuki tahap baru dalam hidupmu waktu itu? A marriage?
I will answer, dengan yakin, “YES”
Inside of my heart, I choose him as my husband. My partner in life. Jadi aku pikir, apapun yang terjadi, pasti akan ada jalan keluarnya, as long as I am with you.
There was when I realize now that “Aku terlalu percaya”

I put my own family in top of my priorities. And I believe that’s enough. Yang ternyata, bagi sebagian orang yang tidak meletakkan keluarganya di prioritas teratas dalam hidupnya, bagi mereka itu gak cukup.

I am way too easy to forgive and giving another second, third, fourth chances.

Aku gak akan bilang, aku hanya manusia biasa yang punya batas. Because, “aku hanya manusia biasa” itu Cuma alesan klise orang-orang lemah yang mencari-cari alasan untuk membenarkan pilihannya yang salah. Aku hanya akan bilang, AKU PUNYA BATAS. Gak akan bilang “aku hanya manusia biasa” cause everyone is manusia biasa, like me. Dan banyak “manusia biasa” di luar sana yang tidak memilih jalan yang SALAH.

SABAR itu ada BATASnya. Itu benar. Bahkan kalau kamu mengetahui ceritaku, sakitnya aku, dan kamu kemudian bertemu langsung denganku saat ini, kamu akan melihat bahwa aku ternyata masih punya kesabaran. Juga kekuatan untuk menghadapi any one more day. Without being insane.
Semua orang yang tau cerita sebenarnya, awalnya mereka bersimpati. Kemudian mereka menghubungiku, via telpon, atau bertemu muka.

Dan mereka melihat di diriku. Tidak ada yang berubah. Tetap seperti aku yang dulu, yang lebih senang tertawa di depan orang-orang, meskipun kali ini menertawakan hidupku sendiri.
Sudah berapa banyak cerita sakitku, yang aku simpan selama ini dari orang-orang terdekatku? Menelannya sendiri bulat-bulat, agar mereka tidak perlu mengkhawatirkan aku. Agar mereka tidak perlu merasa sedih karena ceritaku, atau bersimpati karena air mataku.

Selama ini aku menghadapinya sendirian, tapi sekarang aku ingin sedikit demi sedikit mereka tau. Dengan melihat kenyataan, dan mendengarkan ceritaku. Aku tidak ingin hanya bercerita, lalu membuat mereka berasumsi sendiri tentang orang lain. Aku ingin mereka juga melihat kenyataan, dan mencocokkan dengan ceritaku. Dengan begitu, tidak akan ada yang berpikir apa yang kukatakan hanyalah emosi dan kebohongan. They could see the truth and they could hear me share my stories.

Aku senang saat ada orang yang datang, dengan rasa simpati di dada mereka, lalu ketika mereka melihatku masih berbahagia, mereka merasa lega.

Tidak ada situasi yang lebih buruk dari memberikan rasa prihatin kepada orang-orang yang berduka. Let me keep the tears, and let us share some laughs. Then I will be happy seeing your smile.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;