One whole white sheet of paper..
In front of me.
Waiting for me to start writing
some stories..
Some people asking me,
Udah tau laki lo begitu
gelagatnya dari dulu, kenapa juga lo masih hamil hasil dari dia?
Well, aku emang terlalu percaya.
In almost everything, I mean. Aku gak pernah berpikir, that my marriage
ternyata punya limit waktu. I think it’s for forever.
Aku selalu berpikir, apa lagi
yang dicari di dunia ini, saat hidup sudah berkecukupan dan keluarga sudah
lengkap dengan anak-anak? Tinggal mencari ibadahnya aja.
Dan ternyata aku dibodohi oleh
rasa percayaku sendiri. Bahwa ternyata anything could happen. To your life.
Aku juga terlalu percaya, bahwa
perceraian itu terlalu jauh untuk digapai dalam sebuah pernikahan. For me,
marriage is more than commitment. You put your life in it. Live with it karna
itu udah jadi keputusan kita untuk menikah.
And if you ask, apakah kamu
sebenarnya bener-bener udah siap memasuki tahap baru dalam hidupmu waktu itu? A
marriage?
I will answer, dengan yakin,
“YES”
Inside of my heart, I choose him
as my husband. My partner in life. Jadi aku pikir, apapun yang terjadi, pasti
akan ada jalan keluarnya, as long as I am with you.
There was when I realize now that
“Aku terlalu percaya”
I put my own family in top of my
priorities. And I believe that’s enough. Yang ternyata, bagi sebagian orang
yang tidak meletakkan keluarganya di prioritas teratas dalam hidupnya, bagi
mereka itu gak cukup.
I am way too easy to forgive and
giving another second, third, fourth chances.
Aku gak akan bilang, aku hanya
manusia biasa yang punya batas. Because, “aku hanya manusia biasa” itu Cuma
alesan klise orang-orang lemah yang mencari-cari alasan untuk membenarkan
pilihannya yang salah. Aku hanya akan bilang, AKU PUNYA BATAS. Gak akan bilang
“aku hanya manusia biasa” cause everyone is manusia biasa, like me. Dan banyak
“manusia biasa” di luar sana yang tidak memilih jalan yang SALAH.
SABAR itu ada BATASnya. Itu
benar. Bahkan kalau kamu mengetahui ceritaku, sakitnya aku, dan kamu kemudian
bertemu langsung denganku saat ini, kamu akan melihat bahwa aku ternyata masih
punya kesabaran. Juga kekuatan untuk menghadapi any one more day. Without being
insane.
Semua orang yang tau cerita
sebenarnya, awalnya mereka bersimpati. Kemudian mereka menghubungiku, via
telpon, atau bertemu muka.
Dan mereka melihat di diriku.
Tidak ada yang berubah. Tetap seperti aku yang dulu, yang lebih senang tertawa
di depan orang-orang, meskipun kali ini menertawakan hidupku sendiri.
Sudah berapa banyak cerita sakitku,
yang aku simpan selama ini dari orang-orang terdekatku? Menelannya sendiri
bulat-bulat, agar mereka tidak perlu mengkhawatirkan aku. Agar mereka tidak
perlu merasa sedih karena ceritaku, atau bersimpati karena air mataku.
Selama ini aku menghadapinya sendirian,
tapi sekarang aku ingin sedikit demi sedikit mereka tau. Dengan melihat
kenyataan, dan mendengarkan ceritaku. Aku tidak ingin hanya bercerita, lalu
membuat mereka berasumsi sendiri tentang orang lain. Aku ingin mereka juga
melihat kenyataan, dan mencocokkan dengan ceritaku. Dengan begitu, tidak akan
ada yang berpikir apa yang kukatakan hanyalah emosi dan kebohongan. They could
see the truth and they could hear me share my stories.
Aku senang saat ada orang yang
datang, dengan rasa simpati di dada mereka, lalu ketika mereka melihatku masih
berbahagia, mereka merasa lega.
Tidak ada situasi yang lebih
buruk dari memberikan rasa prihatin kepada orang-orang yang berduka. Let me
keep the tears, and let us share some laughs. Then I will be happy seeing your
smile.

0 komentar:
Posting Komentar